Tuesday , 16 October 2018
Breaking News

Merefleksikan Nilai-nilai Perjuangan Kartini di Era Kekinian

Hari ini, 21 April 2018 hampir di seluruh penjuru tanah air tencinta diperingati Hari Karini. Hari yang menjadikan sejarah perjuangan parempuan Indonesia untuk memeroleh haknya sehingga emansipasi perempuan mendapatkan tempatnya secara proporsional.

Diharapkan ke depannya tidak ada lagi diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sehingga keduanya memiliki kedudukan yang sejajar dalam ikut serta mengisi pembangunan bangsa dan negara ini.

Walaupun hingga sekarang masih sering dan terus diwacanakan, namun demikian bukan berarti bahwa penyebaran wacana tersebut hanya dimaknai dengan diselenggarakannya acara-acara Kartini-an sebatas seremonial, dengan penampilan dandanan perempuan dengan pakaian khas daerah atau bentuk artefak lainnya.

Lebih dari itu, disamping rutinitas seremoni tersebut tentunya ada makna yang patut di-implementasikan sekaligus merupakan refleksi di era kekinian supaya perjuangan para perempuan semakin teraktualisasikan sesuai dengan perkembangan zamannya. Dan inipun sesungguhnya perlu mendapatkan perhatian serta dukungan dari semua pihak agar emansipasi perempuan semakin terwujud dalam kegiatan nyata sehari-hari.

Emansipasi dalam konteks ini merupakan upaya untuk menegakkan hak-hak perempuan dan laki-laki atas kesempatan yang sama, pengakuan yang sama, dan penghargaan yang sama di dalam masyarakat dalam keikutsertaan membangun bangsa dan negara, akses yang sama terhadap pelayanan serta memiliki status sosial dan ekonomi simbang yang semuanya nanti akan bermuara pada terciptanya kesetaraan dan keadilan gender.

Dalam kaitannya dengan era kekinian yang ditandai globalisasi dan hadirnya teknologi informasi pastinya ada 2 (dua) agenda penting yang perlu mendapat perhatian bersama agar bisa melibatkan serta memberdayakan perempuan di dalamnya.

Pertama, peran perempuan dalam keikutsertaan bekerja bidang teknologi informasi perlu secara terus menerus ditingkatkan. Ini penting mengingat perkembangan teknologi informasi menuntut para pekerja untuk menciptakan, menerapkan dan memanfaatkannya secara optimal.

Kedua, perlunya pemerataan melek teknologi informasi bagi perempuan hingga pelosok pedesaan. Ini juga penting supaya pemanfaatan teknologi informasi yang sudah mulai mendominasi segala aktivitas di era sekarang akan banyak menunjang kegiatan perempuan di segala bidang.

Keikutsertaan perempuan bekerja dalam bidang memang harus diakui selama ini sudah mulai nampak, namun demikian dilihat dari posisinya masih terbatas dalam urusan administratif, misalnya dalam penanganan surat elektronik, entry data, atau operator komputer.

Sedangkan jumlah perempuan yang menduduki posisi tenaga ahli dan profesional seperti project coordinator, software architect, dan konsultan enterprise resourceplanning (ERP), termasuk dalam hal kedudukannya sebagai pengambilan keputusan dalam industri teknologi informasi masih perlu ditingkatkan.

Beberapa program yang sudah berjalan seperti: program Woman Techmaker (dari Google) yang bertujuan untuk menarik lebih banyak perempuan terjun di bidang industri teknologi informasi. Demikian halnya program TechFemme (dari Microsoft), dan dari Indonesia sendiri ada program FemaleDev yang diinisiasi oleh Kibar.

Semuanya itu bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh industri teknologi melalui berbagai acara kepada perempuan-perempuan terutama perempuan muda di Indonesia supaya punya bekal dan tertarik untuk meniti karir di bidang teknologi informasi. Itu semua perlu terus ditingkatkan dan kehadirannya perlu diperluas di berbagai daerah.

Sedangkan pada bagian lain, dalam rangka optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi sekaligus untuk pemerataan penggunaan serta untuk meminimalisir kesenjangan teknologi — maka peran pemerintah cq. Kemkominfo beserta jajaran terkait hingga di tingkat daerah perlu terus ditingkatkan program-program  yang tercakup dalam pengenalan dan pemanfaatan dalam ragka perlunya ‘melek teknologi informasi’ terutama bagi para perempuan hingga ke pelosok pedesaan.

Untuk merefleksikan nilai perjuangan Kartini, dua agenda penting tersebut nampaknya masih perlu terus dikemukakan. Ini mengingat bahwa pandangan yang terlanjur salah bahwa pekerjaan di bidang enginering selalu identik dengan laki-laki dan perempuan hanya diposisikan untuk bekerja sebagai perawat kesehatan, psikologi, dan sejenisnya.

Nah, ditengah tradisi maupun kultur kita yang selama ini masih menyimpan anggapan bahwa bekerja dan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga sekaligus mengembangkan karir cenderung didominasi para kaum laki-laki sudah saatnya dirubah. Ini sangat beralasan karena setiap orang (laki-laki dan perempuan) memiliki kemampuan yang sama, termasuk bekerja di bidang teknologi informasi.

Dan untuk mencapai perjuangan seperti dipaparkan diatas, perlunya semua pihak untuk mengerti dan memahami betapa layaknya memberikan kesempatan, peluang, tempat dan waktu, tanpa diwarnai adanya diskriminasi terutama dalam meniti karir di bidang industri teknologi informasi di era kekninian.

Sementara itu, di kalangan perempuan sendiri sudah saatnya bangkit untuk terus mengembangkan bakat, minat, serta kemauan dan kemampuannya untuk menekuni bidang industri teknologi informasi yang selama ini tersedia dan terbuka luas. Hal demikian sekaligus untuk menjauhkan ‘mitos’ bahwa pekerjaan manyangkut enginering hanyalah merupakan dunia yang dimiliki kaum laki-laki  (Fransiska Rosilawati).

https://www.kompasiana.com/rosilawati/5adb641cab12ae7e731f42c2/merefleksikan-nilai-nilai-perjuangan-kartini-di-era-kekinian

Check Also

Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018

Memasuki tahun pelajaran 2018/2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) telah menerbitkan Permendikbud Nomor 15 Tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *