Monday , 18 December 2017
Breaking News

Google Doodle Rayakan Ultah ke-25 Taman Nasional Ujung Kulon

Halaman utama Google hari ini, Minggu (26/2/2017), dihiasi ilustrasi dua ekor badak bercula satu, dewasa dan kanak-kanak, sedang asyik merendam sebagian tubuhnya di air. Mengapa demikian?

Ternyata, tepat pada tanggal ini merupakan hari ulang tahun ke-25 Taman Nasional Ujung Kulon.

“SMK Dwi Putra Bangsa berada di dekat kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Bangga Rasanya hari ini ultahnya Taman Nasional Dirayakan oleh Google”

Meski disebut baru berusia 25 tahun, sebenarnya keberadaan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sendiri sudah sejak lama. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh F Junghun pada 1846 silam saat dia sedang mengumpulkan informasi mengenai berbagai tumbuhan tropis. Saat itu, statusnya masih sebagai sebuah kawasan hutan.

Selanjutnya, mulai 1921, Perhimpunan The Netherlands Indies Society for The Proctein of Nature merekomendasikan Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan sebagai Kawasan Suaka Alam. Penetapan ini dikukuhkan dengan Surat Keputusan (SK) Pemerintah Hindia Belanda Nomor 60, tanggal 16 November 1921.

Perkembangan berikutnya, penetapan kawasan perlindungan alam ini diperluas dengan memasukkan perairan laut, Pulau Peucang, Gunung Honje Selatan, dan Gunung Honje Utara sebagai wilayah konservasi. Penetapan Taman Nasional Ujung Kulon ini dilakukan secara bertahap melalui beberapa keputusan pemerintah.

Salah satu keputusan tersebut, yakni SK Menteri Kehutanan Nomor: 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992, memerintahkan perubahan status kawasan konservasi itu menjadi Taman Nasional. SK ini pula yang mencantumkan luas total kawasan tersebut sejumlah 122.956 hektar, yang terdiri dari kawasan darat 78.619 hektar, dan kawasan perairan 44.337 hektar.

SK tahun 1992 itulah yang kemudian dicatat sebagai kelahiran Taman Nasional Ujung Kulon dan menjadi bahan Google Doodle 26 Februari 2017 ini.

Sekadar diketahui, Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon terkenal sebagai wilayah pelestarian badak jawa atau badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus).

Badak jawa merupakan hewan yang terancam punah. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengategorikannya dalam tingkat kritis (CR) atau berada di ambang kepunahan, hanya dua tingkat saja sebelum badak bercula satu itu menuju kepunahan total.

Pada 2015 silam, diketahui bahwa jumlah badak jawa yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon sekitar 60 ekor saja.

Selain badak jawa, Taman Nasional Ujung Kulon yang memiliki luas sekitar 122.956 hektar itu juga merupakan rumah bagi berbagai hewan langka lainnya. Beberapa di antaranya adalah owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aigula), serta anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon juga dihuni macam-macam hewan lain yang tidak berstatus langka, misalnya rusa, kijang, kancil, babi hutan, macan tutul, berang-berang, kukang, lutung, dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

Source original article: link

Check Also

Hal Ini yang Membuat Lulusan SMK Berbeda

Pendidikan Vokasi, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi fokus pemerintah guna menghasilkan para lulusannya menjadi …

Leave a Reply